Lompat ke isi utama

Berita

MENULIS Berpotensi Mencegah dan Menunda Kehilangan Memori

MENULIS  Berpotensi Mencegah dan Menunda Kehilangan Memori

Belajar itu penting, tetapi menulis jauh lebih penting. Karena salah satu starting point belajar adalah menulis. Dari menulis kita menyerap ilmu yang dituliskan oleh para penulis. Dari menulis kita menyerap banyak pengalaman hidup yang dikumpulkan dan dituliskan oleh para penulis. Dari menulis kita akan mendapat banyak informasi mengenai fenomena alam yang selama ini belum kita tahu dan layak untuk kita tafakuri. Ada banyak kejadian yang belum kita serap himkahnya, dan ada banyak kisah inspiratif yang belum kita teladani. Maka semua hal itu bisa kita peroleh salah satunya melalui menulis.

Dengan menulis, orang mengambil manfaat dari pengalaman orang lain, kearifan orang bijaksana dan pemahaman orang intelektual. Dengan sering menulis, orang mengembangkan kemampuannya, baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam hidup. Ternyata menulis berpotensi untuk menjauhkan kita dari risiko penyakit Alzheimer. Menulis benar-benar dapat langsung meningkatkan daya ikat otak. Ketika menulis, otak senantiasa dirangsang. Stimulasi (rangsangan) secara teratur dapat membantu mencegah gangguan pada otak, termasuk penyakit Alzheimer. Penelitian telah menunjukkan bahwa latihan otak seperti menulis dapat menunda atau mencegah kehilangan memori dan bisa menjadi pengobat dari depresi. Dengan menulis dapat menghilangkan kecemasan dan kegundaan, mengembangkan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata, membantu mengembangkan pikiran dan menjernihkan cara berpikir.

Sejatinya orang yang menulis itu seperti orang gila kecil, selalu menekuni aktivitasnya dengan cara yang super unik, yaitu selalu berteman dengan suasana senyap, hanya pena dan buku sebagai pendamping setia yang tak pernah bersalah, dan tak pernah marah. Ketika orang lain tidur dia sudah bangun, ketika orang lain bangun dia sudah jalan, ketika orang lain jalan dia sudah berlari, dan ketika orang lain berlari dia sudah sampai di finis. Itulah pekerjaan orang menulis, ibarat mata air yang mengalirkan anak-anak sungai yang bernama kreativitas, intuisi dan imajinasi. Tidak dapat dielakkan, untuk menjadi lebih kreatif, intuitif, dan imajinatif, maka kita harus memberisikan mata airnya. Dengan kata lain, kita harus mencoba mengasah dan membersihkan otak kanan kita dengan menulis.

Tentu banyak di antara kita pasti bertanya, ada apa dengan menulis? apa untungnya bagi saya? Pertanyaan itu hanya ada pada orang yang mengasah kreativitasnya dengan otak kiri. Sesungguhnya dibalik semua itu ada makna yang sangat dalam, dimana menulis itu adalah hiburan intelektual, menulis itu indahnya kita bermain kata dan cantik bermain bahasa. Tak seorangpun yang mengenang sosok, rekam jejak, dan kipra kita, kecuali menulis. Jika Anda dan Saya ingin dikenang melalui tutur kata, maka berkaryalah  dengan menulis (Hamzah, 2020).

Kita mesti sepakat, bahwa manusia tidak mungkin lahir langsung dewasa, tetapi dia harus merangkak dulu, dia belajar mencari dan menemukan diri…..Right. Sama halnya dengan kebanyakan orang lain menulis tentang tugas, wewenang dan kewajiban kita sebagai penyelenggara pemilu (Bawaslu) yang memiliki multifungsi di bawah ini.

Ibaratnya, di hilir; Bawaslu dalam melakukan tugas pengawasan dan pencegahan, di tengah; Bawaslu melakukan tugas penindakan pelanggaran, di hulu; Bawaslu bertugas memutus penyelesaian sengketa proses dan administrasi pemilu dan pemilihan. Bawaslu saat ini memiliki kewenangan besar, tidak hanya sebagai pengawas, tetapi sekaligus sebagai eksekutor hakim pemutus perkara. Sehingga peran Bawaslu menjadi pelopor yang mengupas tuntas masalah penanganan pelanggaran dan penyelesaian sengketa pemilu. Bawaslu juga harus hadir menjadi solusi bagi berbagai tuntutan untuk melakukan pengawasan, pencegahan dan penindakan atas pelanggaran atau kecurangan yang terjadi selama penyelenggaraan pemilu.

Dalam konteks Indonesia yang sedang membangun peradaban politik yang sehat, pelaksanaan pemilu tanpa hadirnya pengawasan secara struktural dan fungsional yang kokoh, berpotensi besar akan menimbulkan hilangnya hak pilih warga negara, maraknya politik uang, kampanye hitam, merebaknya isyu SARA dan pemilu yang tidak sesuai aturan. Dampak lanjutan pemilu yang tidak berkualitas dan berintegritas adalah, timbulnya sengketa dan gugatan hasil pemilu. Selain itu, pesta demokrasi yang biayanya tinggi, tetapi hanya akan menghasilkan pemimpin yang legalitas dan legitimasinya diragukan. Potensi bahaya selanjutnya adalah tumbuhnya konflik politik yang tidak berkesudahan.

Kehadiran Bawaslu memiliki nilai lebih dalam terhadap demokrasi, tidak hanya sekedar mengawal demokrasi prosedural, tetapi mengawal demokrasi substansial, sehingga tercapainya demokrasi yang berintegritas (Abhan, 2021).

Kita pasti bisa, dan bisa berkaca pada pengalaman sahabat-sahabat kita yang cukup membumi menuangkan ide, menggagas konsep, mengasah nalar, naluri, dan nurani meracik kemasan-kemasan ringan bertajuk: “Mereka Yang Terlupakan Jalan Sunyi Sang Pengawal Demokrasi” (Hamzah, 2020); Bawaslu Tidak Lagi Ompong (Kotten, 2020); Pengawas Untuk Pengawasan (Melky Elianor Fay dkk, 2021); Jangan Pernah Berhenti Belajar, Opini (Kotten, 2021), Tantangan SDM Pengawas Pemilu Serentak 2024, Opini (Hamzah, 2021,); Pemetaan Persoalan Data Pemilih Jelang Pemilu 2024, Opini (Fortunatus Hamsah Manah, 2021); Menulis, Berpotensi Mencegah dan Menunda Kehilangan Memori, Opini (Kotten, 2021) dan beberapa karya spektakuler hasil Research Anggota Bawaslu yang dimotori Pimpinan Bawaslu Provinsi NTT (Fountuna, dkk. 2020).

Karya-karya di atas, entah baik, atau tidak baik isinya, yang jelas kita sudah percaya diri untuk memulainya. Bukankah memulai yang kecil itu indah? dari pada menghayal yang besar tapi robot asal jadi? Biarkan orang lain menilai, yang penting khafilah tetap jalan. Untuk bisa memulai sesuatu (menulis), paling tidak ada tiga kata kunci yang harus kita hindari dari pikiran kita. Jangan sampai masa depan kita dihancurkan karena dalam diri kita tertanam keyakinan yang salah. Tiga kata kunci tersebut adalah: Pertama: I Can’t (aku tak bisa), kedua: Impossible (tidak mungkin), dan ketiga: I Know (aku tahu).

I Can’t (aku tak bisa), membuatmu menyerah sebelum mencoba. Bagaimana kau bisa bilang tak bisa jika belum mencobanya. Orang yang mencoba, bisa berhasil, bisa gagal. Tapi orang yang takut mencoba, dia 100% sudah gagal. Kalah sebelum perang.

Impossible (tidak mungkin), membuat impian tinggimu seolah tak bisa tercapai. Padahal adakah yang tak mungkin di dunia ini jika Tuhan sudah berkehendak? Teruslah yakin bahwa apa yang bisa kau lihat adalah apa yang bisa kau gapai.

I Know (aku tahu), membuatmu menjadi orang yang menutup diri dari pegetahuan dan pengalaman baru. Jadilah gelas yang selalu kosong, yang siap menampung mata air hikmah dari mana pun dia berasal.

Kita pasti hebat. Ayoo,…,berlombah-lah dalam prestasi, dalam kontribusi. Saat kemalasan menggodamu untuk bersantai, katakan “Mana mungkin aku bisa menggapai masa depan yang hebat, jika saat ini aku bersantai menggapai impian tinggiku”. Bangun dan kejar mimpimu. Kebesaran tak bisa diraih hanya dengan bersantai. Indahnya masa depan akan susah diraih tanpa kerja keras dan pengorbanan di masa muda. Jika enggan mengambil resiko, Anda tak akan pernah kalah. Tapi tanpa berani menanggung resiko, Anda tak akan pernah menang.

Semoga dengan spirit ini, kita menjadi optimis, punya visi hidup yang hebat, serta senantiasa menjadi penulis sejati.  Salam Awas.