Recovery Reputasi, Tantangan Humas Bawaslu
|
Ende, Bawaslu - Asmono Wikan, nama yang tidak asing lagi dalam dunia publik relations (PR) di Indonesia. Sederetan jabatan telah dimilikinya seperti Founder & CEO PR Indonesia, Founder & CEO Humas Indonesia, CEO Dasa Strategik Indonesia, Trainer pelatihan manajemen media, menulis kreatif, Public Relations (PR) lebih dari 100 korporasi dan lembaga pemerintah di Indonesia, serta menjabat Sekjen Serikat Perusahaan Pers (SPS) Pusat.
Memiliki kompetensi profesional di bidang industri Media, PR, dan Komunikasi, membuatnya layak menjadi narasumber pada Forum Peningkatan Kapasitas Kehumasan Bawaslu Provinsi se-Indonesia, via Zoom, Kamis 11 Juni 2020. Bawaslu Kabupaten Ende juga mengikuti kegiatan ini, melalui link yang diteruskan oleh Bawaslu Provinsi NTT. Wikan mengungkapkan, perlukah Bawaslu berkomunikasi kepada publik? dan siapakah yang menjadi garda terdepan komunikasi Bawaslu kepada Publik? pertanyaan yang mengukur kedalaman dan jawaban konstruktif dalam upaya perbaikan stigma negatif terhadap Humas Bawaslu belakangan ini.
Menurutnya ada 3 elemen strategis komunikasi publik Bawaslu, yaitu Produk Utama Bawaslu yang mudah dikenali publik, Target Audiens Komunikasi Bawaslu, dan Medium Komunikasi Publik yang relevan bagi Bawaslu. Apabila tiga hal ini terpenuhi, maka soal bentuk dan konten komunikasi publik akan lebih mudah dirumuskan dan posisi Humas yang strategis akan menentukan kinerja komunikasinya.
Konten dan posisi strategis Humas akan sangat tergantung pada relevansinya terhadap target audiens yang dibidik. Ia mencontohkan pemilih dalam Pemilu 2019 berjumlah 192.828.520, terdapat 80 juta pemilih milenial yang berumur 17-35 tahun baik di dalam negeri maupun di luar negeri atau 41,48% pemilih milenial. Untuk mengkomunikasikan produk-produk Bawaslu kepada kelas milenial, pasti membutuhkan strategi dan konten yang relevan. Selain itu, Humas Bawaslu harus ditempatkan di level yang strategis dan bekerja strategis pula, tanpa itu, jangan harap organisasi mendulang reputasi yang berkelanjutan.
Lebih lanjut Ia mengungkapkan, hubungan media adalah soal relasi humanistik yang berkelanjutan. Adalah salah jika hubungan media sekadar relasi berbagi siaran pers, mengundang konferensi pers, atau mengajak press tour. Substansi hubungan media adalah pemahaman terhadap setiap publisher (media outlet). Mulai dari jenis dan segmen pasar, ideologi media bersangkutan, mengenal siapa aktor media tersebut seperti Reporter, Redaktur/Pemimpin Redaksi, hingga pemilik media.
Ada 3 hal mendasar Hubungan Media yang dapat memberikan pengaruh terhadap Humas, yakni brand, manage, dan brand awareness audience. Humas harus selalu berkomunikasi dengan audiens guna membangun citra positif, menangani potensi krisis, mengelola krisis yang terjadi, serta memelihara produk/jasa/kebijakan.
Beberapa praktek hubungan media yang dilakukan, diantaranya membuat dan mengelola grup WA dengan jurnalis, memasang iklan di media, membuat dan mendistribusikan siaran pers, mengirim hak koreksi dan hak jawab, mengadakan coffe morning atau media gathering, mengunjungi media, memelihara hubungan personal dengan jurnalis, mengedukasi jurnalis dengan isu-isu spesifik, menyelenggarakan press conference, serta mengatur doorstop interview jurnalis dengan pimpinan media.
Lebih dalam ia menjelaskan, Hubungan Media yang efektif yaitu memiliki tujuan yang terukur, memiliki data base dan pemetaan kuat terhadap media, membangun engagement dengan awak media, melibatkan komunitas pers, dikelola secara berkelanjutan bukan hanya saat dibutuhkan, mengedepankan nilai edukasi dan menyampingkan aspek bisnis, serta memiliki agenda setting konten secara teratur yang akan dikomunikasikan melalui media.
Selain itu, Hubungan Media menghadapi tantangan bagi Humas yakni “recovery reputasi” jika ada pemberitaan yang salah di media, mengedukasi jurnalis agar ketika menulis tentang isu perusahaan/lembaga tidak keliru, merancang beragam story yang menarik perhatian jurnalis sehingga secara konsisten mendapat porsi penting dalam ruang pemberitaan di media.
Kekuatan hubungan media sejatinya terletak pada konten. Tanpa konten yang memadai, hubungan baik dengan jurnalis pun menjadi tidak optimal. Apapun bentuk, pola, dan strategi hubungan media yang dilakukan “konten” tetaplah segalanya, manajemen hubungan media yang bagus bisa menjadi pertahanan tangguh bagi potensi krisis.
Untuk mendukung kerja-kerja kehumasan, setidaknya memiliki 7 tips profesional yakni jujur, rendah hati, humanis, empatik, pandai bergaul, kompeten dan skillful, serta menjadi pendengar yang baik. Ringkasnya, apapun rencana komunikasi selalu menggunakan 4 rumusan umum, yakni memiliki tujuan dan target audiens yang jelas, mengandung pesan dan menggunakan medium komunikasi yang relevan, membawa dampak positif bagi organisasi dan audiens, serta dilakukan secara etikal. Penulis: Yos Ilang